Senin, 01 September 2014

Lari gawang

Lari Gawang (Hurdling race)
Lari gawang adalah lari cepat menempuh jarak dengan melompati gawang-gawang.
Gerakan lari gawang, baik lari 110m mupun 200m serta 400m (untuk pria) atau 100m (untuk wanita
sedapat mungkin harus dilakukan seperti pada gerakan lari cepat.Pada waktu melompati gawang
harus dilakukan secara beruntun, lancar dan rileks.
Pada saat berlari diusahakan tidak melayang terlalu lama, sehingga kecepatan lari tetap
dipertahankan.Usahakan ketika berada diatas gawang keseimbangan tetap terjaga.

Teknik Dasar Lari Gawang

a) Dari mulai start ke gawang pertama

Menggunakan start jongkok. Gerakan yang dilakukan dari mulai start ke gawang pertama sangat penting untuk dilakukan dengan benar, karena dapat mempengaruhi ritme gerakan ,terutama saat melompati gawang berikutnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Saat hendak menolak pinggang diangkat tinggi dan agak jauh dari gawang, untuk menghindari kesalahan ujung kaki menyentuh dan menjatuhkan gawang dan untuk memperoleh lintasan serendah mungkin saat diatas gawang.
2. Lutut kaki depan harus diangkat tinggi dan membentuk sudut 90 - 95o. Sedangkan lutut
belakang diluruskan dan tumit diangkat tinggi.
3. Saat kaki belakang melakukan tolakan, lutut kaki depan diluruskan dengan gerakan
seperti menendang Sikap badan diatas gawang

b) Sikap badan saat diatas gawang

1. Gerakan tubuh pada waktu diatas gawang diusahakan sesingkat mungkin guna menjaga
kecepatan setelah mendarat. Posisi badan condong ke depan dan lutut dibengkokkan.
2. Kaki tolakan ditarik ke depan dengan jalan memutar kesamping. Kaki harus tetap
diangkat tinggi agar dapat menjangkau jarak yang jauh setelah kaki depan mendarat.
3. Setelah kaki depan melewati gawang, kaki segera diturunkan dan diluruskan. Lengan
membantu keseimbangan.

c) Sikap badan dan gerakan kaki pada waktu mendarat

1. Badan dicondongkan kedepan untuk memudahkan menarik kaki belakang.
2. Kaki belakang segera ditarik ke depan untuk membuat langkah panjang.

d) Langkah diantara gawang

Jumlah langkah disesuaikan dengan jarak antar gawang, panjang tungkai kaki dan
kemampuan sprint.

1. Usahakan lari di antara gawang memiliki irama yang konstan dan efisien. Dikarenakan jarak antar gawang yang selalu sama , dengan jumlah dan gerakan langkah yang telah diperhitungkan dapat menguntungkan atlet.

e) Dari gawang terakhir sampai finish

1. Badan dicondongkan ke depan.
2. Lari dengan kecepatan maksimal dan membusungkan dada kedepan.
OLAHRAGA PANAHAN


apa yang dimaksud dengan olahraga panahan?? 

olahraga panahan adalah olahraga yang memerlukan keahlian dan juga skill tersendiri. ya, olaraga ini termasuk sulit. kadang, untuk beberapa pemula biasanya bisa terluka karena terkena panah yang sedang meluncur. tetapi, jika sudah terbiasa olahraga ini dapat menjadi hobi yang bagus. olahraga ini juga dapat membuat tubuh menjadi kuat. bagi orang-orang yang ingin membuat otot pada tangannya, olahraga ini juga bisa digunakan loh! 
sebenarnya, dahulu panahan ini tidak termasuk dalam olahraga. karena biasanya olahraga ini dipergunakan untuk membela diri. dan juga untuk berperang dimasa lalu. tapi, semenjak raja inggris yaitu raja Charles II melombakan olahraga ini. semenjak itu pula panahan disebut menjadi sebuah olahraga.

alat apa saja yang dibutuhkan??

-yang pertama tentu saja skill, tanpa skill orang tidak akan bisa memanah dengan benar. lagipula, busur juga lumayan berat loh.
-busur
-dan pastinya anak panah

busur yang digunakan bukanlah busur yang sembarangan ya. busur ini ada namanya juga, yaitu recurve bow.

apa itu recurve bow??

Recurve bow adalah perkembangan termutakhir dari busur. Ini adalah jenis busur yang paling umum digunakan di olahraga panahan saat ini. Desainnya terdiri dari tiga bagian utama, riser - pegangan dan tempat aksesori lain dipasang, dan sepasang limb yang merupakan sumber energi pegas busur. Ciri khas dari busur ini adalah bagian ujungnya yang melengkung ke depan (menjauhi pemanah) saat tidak ditarik atau dilepas talinya. Konstruksi seperti ini memungkinkan draw weight yang lebih besar untuk panjang yang sama. Sebagai kompensasinya, bahan penyusun limb memperoleh tegangan/regangan lebih besar daripada busur biasa (longbow).

ini adalah bagian-bagian dari recurve bow...

  • Riser - pegangan dan tempat ditempelkannya limb dan aksesori lain.
    • Grip - bagian tempat memegang busur.
    • Arrow rest - tempat meletakkan anak panah, bisa terbuat dari bulu atau plastik.
    • Sight window - bantuan visual untuk membidik.
    • Stabilizer - mengatur keseimbangan busur sesuai keinginan pemanah dan menahan getaran saat menembak.
    • Sight - visir, untuk memperoleh bidikan yang lebih akurat.
  • Limb - menyimpan energi pegas busur. Pada busur yang lebih modern, limb dapat dengan mudah dibongkar pasang untuk ditukar, sementara busur produksi perajin lokal memberikan performa yang kurang bagus jika sering dibongkar pasang.
    • String groove - lekukan tempat tali busur dikaitkan.
    • Limb tip
  • String - mentransfer energi dari tangan pemanah ke limb atau dari limb ke anak panah. Terbuat dari material sintetis seperti Kevlar.
    • Center serving
    • Nock point - tempat anak panah diletakkan, biasanya ditandai dengan lilitan benang di atas serving.

bagaimana cara memanah yang baik untuk pemula??


Pemanah  pemula   dalam   latihan   panahan   harus    mengetahui   dan   mencoba    cara
memasang tali yang benar pada busur. Cara memasang tali yang benar penting  sekali,  yaitu  agar
busur  tidak  patah  dan  nocking  point  berada  pada  posisi  yang  benar.  Ada   dua   metode/cara
memasang tali pada busur:
1.  Metode dorong tarik (push pull)
 
Metode ini dipakai pada busur yang lurus dan melengkung. Tali dipasang  secara  tepat
di  dalam  notch  dari  sisi  busur  sebelah  bawah  yang  dibiarkan  tenang.  Tangan  yang  satu
menarik bagian tengah busur keluar, sedangkan tangan yang lain mendorong  untuk  memaksa
sisi busur kearah bawah. Ketika lengkungan diperoleh, jari harus menyumbat ujung tali  dalam
penakik busur atas (notch). Tali yang  sudah  dipasang  harus  diperiksa  yaitu  dalam  keadaan
lurus dengan busur (Barrett J.  A,  1990:  46).  Pemanah  harus  hati-hati  dalam  menggunakan
metoda ini, karena jika saat mendorong tidak hati-hati tangan bisa tergelincir, akibatnya  busur
bisa terbang ke depan dan dapat memukul wajah. Seorang pemanah pemula,  jika  mempunyai
suatu tarikan busur yang berat dan atau sangat panjang, maka akan mengalami kesulitan untuk
menggunakan metoda ini (C.John, W, 1976: 47).
2.  Metode tindak langkah (step-through)
 
Menempatkan sayap bawah di depan salah  satu  kaki  dan  tali  busur  berada  diantara
langkah kaki lain. Pemanah menarik sayap bagian atas maju di  atas  paha  dan  masukkan  tali
sampai takik pada ujung sayap. Kelemahan dari metoda ini adalah pemanah  cenderung  sering
menarik sayap bagian atas ke arah badan menjadi suatu garis lurus dengan tali busur dan busur
melengkung  secara  alami.  Hasilnya  tekanan  yang  tidak  seimbang   dapat   dengan   mudah
membengkokan sayap. Bagi para pemanah pemula  sering  menggunakan  metode  ini,  karena
lebih mudah dalam memasukan tali busur dan tingkat keamanannya lebih baik daripada cara 1
(C.John, W, 1976: 49).
3.  Posisi setengah tarikan (set up)
 
Posisi badan releks  dengan  setengah  tarikan.  Pada  saat  posisi  ini,  pemanah  sangat
penting untuk merasakan agar posisi badan tetap  tegak/center.  Pemanah  dalam  menarik  tali
menggunakan tiga jari, yaitu: jari telunjuk di atas ekor anak panah, jari tengah  dan  jari  manis
berada di bawah ekor anak panah. Jarak antara jari telunjuk dan jari tengah  kurang  lebih  satu
sentimeter. Pada waktu set up buat satu garis lurus  antara  bow  arm  dengan  draw  arm  (Lee
dkk, 2000).
 
4.  Menarik tali (drawing).
 
Tehnik dengan gerakan menarik tali sampai menyentuh bagian dagu, bibir, dan  hidung
(Achmad Damiri, 1990:  21).  Pemanah  dalam  menarik  tali  dengan  irama  yang  sama,  agar
posisi badan selalu seimbang. Kemudian pada waktu menarik  jangan  dibantu  dengan  badan,
tetapi gunakan otot-otot belakang bahu  untuk  menarik.  Posisi  yang  benar  adalah  tali  yang
mendekati dagu atau kepala, sebaliknya jangan kepala pemanah yang mendekati tali.
5.  Penjangkaran (anchoring).
 
Teknik dengan gerakan menjangkarkan tangan penarik pada bagian dagu.  Pada  waktu
anchoring, pernafasan harus dikontrol dengan baik dan konsentrasi  tetap.  Setelah  anchoring,
tekanan ke depan dari tarikan ke belakang  terus  kontinyu  jangan  sampai  kendur/rileks  (Lee
dkk, 2000). Posisi anchoring ada 2 yaitu:  penjangkaran  yang  tinggi  dan  penjangkaran  yang
rendah. Penjangkaran tinggi, dengan ujung jari telunjuk di  sudut  mulut  sehingga  ujung  jari/
ujung tangan bertumpu sepanjang bagian bawah tulang pipi. Penempatan  jari  depan  di  sudut
mulut membantu mengatur anak panah di bawah pandangan mata.  Penjangkaran  rendah,  jari
depan bertumpu langsung di bawah tulang rahang sehingga tali berada di  garis  tengah  wajah.
Tali menyentuh ujung hidung dan di tengah-tengah dagu. Pemanah banyak mengerutkan  bibir
dan mencium tali. Pemanah pemula  biasanya  menggunakan  cara  penjangkaran  yang  tinggi
(Barrett J. A, 1990: 52-53).
6.  Menahan sikap memanah (holding).
 
Pemanah  menahan  sikap  memanah  beberapa  saat  sebelum  anak  panah  dilepaskan
(Achmad  Damiri,  1990:  23).  Pada  posisi  holding,  untuk  tekanan  ke   depan   dan   tarikan
kebelakang  tetap  kontinyu.  Pemanah  dalam  posisi  holding,   jangan  dibantu  badan   untuk
menahan beban tarikan busur, tetapi yang  dilakukan  adalah  otot-otot  lengan  penahan  busur
dan  lengan  penarik   tali   harus   berkontraksi,   agar   sikap   memanah   tidak   berubah/tetap
merupakan satu garis lurus (Lee dkk, 2000)
7.  Membidik (aiming).
 
Suatu gerakan mengarahkan visir pada  titik  sasaran  dan  pemanah  dalam  memegang
grip serileks mungkin. Bagi seorang pemanah pemula tehnik membidik  sering  berubah-ubah,
hal ini disebabkan karena  waktu  membidik  kadang  terlalu  cepat  dan  kadang  terlalu  lama,
sehingga perlu latihan yang banyak agar bisa  ajeg.  Menurut  hasil  pengamatan  di  kejuaraan
Nasional, pemanah dalam membidik rata-rata  memerlukan  waktu  4  detik.  Penyetingan  alat
pembidik (visir)  perlu  disesuaikan  tidak  hanya  pada  jarak,  tetapi  pada  saat  cuaca  dingin,
panas, dan angin, agar memperoleh target sesuai yang diinginkan (Achmad Damiri, 1990: 26).

8.  Melepaskan anak panah (release).
 
Suatu gerakan  melepaskan  tali  busur  dengan  cara  tangan  penarik  tali  bergerak  ke
belakang menelusuri dagu dan leher pemanah (Achmad Damiri, 1990: 26). Pada waktu release
tekanan pada lengan kiri dan kanan jangan sampai bertambah pada  salah  satu  bagian.  Selain
itu, jari-jari penarik tali juga  harus  rileks,  agar  mendapatkan  release  yang  halus.  Pemanah
yang release nya halus, maka  setiap  arah  panah  dan  speed  (kecepatannya)  sama,  sehingga
terbangnya anak panah menjadi mulus

9.  Gerak lanjut (follow through).
 
Pemanah selama beberapa  detik  melakukan  gerak  lanjut  dengan  tetap  memberikan
tekanan yang sama seperti release.  Pandangan  mata  pemanah  juga  harus  tetap  konsentrasi
kesasaran tidak beralih ke terbangnya anak panah. Busur diusahakan tetap diam sebelum  anak
panah menancap di target. Tujuan dari gerak lanjut  adalah  untuk  memudahkan  pengontrolan
gerak memanah yang dilakukan

SEJARAH PERKEMBANGAN OLAHRAGA PANAHAN

Sampai saat ini tak seorangpun mengetahui, sejak kapan orang mulai memanah. Orang hanya menduga bahwa memanah telah dilakukan manusia sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Namun dari buku-buku melukiskan bahwa orang purbakala telah melakukan panahan yaitu menggunakan busur dan panah untuk berburu dan untuk mempertahankan hidup. Bahkan dari beberapa buku melukiskan bahwa lebih dari 100.000 tahun yang lalu suku Neanderathal telah menggunakan busur dan panah. Ahli-ahli purbakala dalam penggalian di Mesir juga telah menemukan tubuh seorang prajurit Mesir Kuno yang menemui ajalnya karena ditembus anak panah. Data menunjukkan bahwa kejadian itu terjadi kira-kira 2100 tahun sebelum masehi. Dari beberapa buku juga mengemukan bahwa sampai kira-kira tahun 1600 sesudah Masehi, busur dan panah merupakan senjata utama setiap negara dan bangsa untuk berperang. Hingga kinipun masih
ada suku-suku bangsa yang mempergunakan busur dan panah dalam penghidupan sehari-hari mereka, seperti : suku-suku bangsa di hutan-hutan daerah hulu sungai Amazone, suku-suku Veda di pedalaman Srilangka, suku-suku Negro di Afrika, suku-suku Irian di Irian Jaya, suku Dayak dan suku Kubu Dari buku-buku dan keterangan-keterangan yang diperoleh maka terdapat dua kelompok ahli yang mengemukakan dua teori yang berbeda.Yang pertama berpendapat bahwa panah dan busur mulai dipakai dalam peradaban manusia sejak "era mesolitik" atau kira-kira antara 5000 - 7000 tahun yang silam, sedang pendapat kedua percaya bahwa panahan lebih awal dari masa itu, yaitu dalam "era paleolitik" antara 10.000 - 15.000 tahun yang lalu.
Terlepas dari mana yang benar, maka yang jelas bahwa sebelum panahan menemui bentuknya sebagai olahraga seperti yang kita kenal saat ini, ternyata telah melalui masa pertumbuhan yang panjang. Melalui peranan yang berbeda-beda, mula-mula panahan dipergunakan orang sebagai alat untuk mempertahankan diri dari serangan bahaya binatang liar, sebagai alat untuk mencari makan, atau untuk berburu, untuk senjata perang dan baru kemudian berperan sebagai olahraga baik sebagai rekreasi ataupun prestasi. Dari catatan sejarah dapat dicatat bahwa baru pada tahun 1676, atas prakarsa Raja Charles II dari Inggris, panahan mulai dipandang sebagai suatu cabang olahraga. Dan kemudian banyak negara-negara lain yang juga menganggap panahan sebagai olahraga dan bukan lagi sebagai senjata untuk berperang. Pada tahun 1844 di Inggris diselenggarakan perlombaan panahan kejuaraan nasional yang pertama dibawah nama GNAS (Grand National Archery Society), sedang di Amerika Seirkat menyelenggarakan kejuaraan nasionalnya yang pertama pada tahun 1879 di kota Chicago.

PERKEMBANGAN PANAHAN DI INDONESIA

Sama halnya dengan perkembangan/sejarah panahan di dunia, demikian pula tidak seorangpun yang dapat memastikan sejak kapan manusia di Indonesia menggunakan panahan dan busur dalam kehidupannya. Tetapi apabila kita memperhatikan cerita-cerita wayang purwa misalnya, jelas bahwa sejarah panah dan busur di Indonesiapun telah cukup panjang, dan tokoh-tokoh pemanah seperti Arjuna, Sumantri, Ekalaya, Dipati Karno, Srikandi demikian pula Dorna sebagai Coach panahan terkenal dalam cerita Mahabharata. Kalau PON I kita pakai sebagai batasan waktu era kebangunan olahraga Nasional, maka Panahan telah ikut ambil bagian dalam era kebangunan Olahraga Nasional itu. Dalam sejarah PON, Panahan merupakan cabang yang selalu diperlombakan, walaupun secara resminya Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) baru terbentuk pada tanggal 12 Juli 1953 di Yogyakarta atas prakarsa Sri Paku Alam VIII. Dan Kejuaraan Nasional yang pertama sebagai perlombaan yang terorganisir, baru diselenggarakan para tahun 1959 di Surabaya. Sri Paku Alam VIII selanjutnya menjabat sebagai Ketua Umum Perpani hampir duapuluh empat tahun dari tahun 1953 sampai tahun 1977. Kini beliau menjabat sebagai Ketua Kehormatan Perpani.
Dengan terbentuknya Organisasi Induk Perpani, maka langkah pertama yang dilakukan adalah menjadi anggota FITA (Federation Internationale de Tir A L’arc). Organisasi Federasi Panahan Internasional yang berdiri sejak tahun 1931. Indonesia diterima sebagai anggota FITA pada tahun 1959 pada konggresnya di Oslo, Norwegia. Sejak saat itu Panahan di Indonesia maju pesat, walaupun pada tahun-tahun pertama kegiatan Panahan hanya terdapat di beberapa kota di pulau Jawa saja. Kini boleh dikatakan bahwa hampir di setiap penjuru tanah air, Panahan sudah mulai dikenal.
Dengan diterimanya sebagai anggota FITA pada tahun 1959, maka pada waktu itu di Indonesia selain dikenal jenis Panahan tradisional dengan ciri-ciri menembak dengan gaya duduk dan instinctive, maka dikenal pula jenis ronde FITA yang merupakan jenis ronde Internasional, yang menggunakan alat-alat bantuan luar negeri yang lebih modern dengan gaya menembak berdiri. Dan dengan demikian terbuka pulalah kesempatan bagi pemanah Indonesia untuk mengambil bagian dalam pertandingan-pertandingan Internasional. Bersamaan dengan itu timbul masalah peralatan yang harus diatasi untuk bisa mengambil bagian dalam pertandingan Internasional, pemanah kita harus memiliki peralatan yang memadai, agar dapat berkompetisi dengan lawan-lawannya secara berimbang. Kenyataannya alat-alat ini sangat mahal harganya dan sulit di dapat. Hanya beberapa pemanah saja yang dapat membayar harga alat-alat tersebut. Keadaan ini merupakan faktor penghambat bagi perkembangan olahraga ini. Untuk mengatasi masalah ini, pada tahun 1963 Perpani menciptakan Ronde baru dengan nama Ronde Perpani. Pokok-pokok ketentuan pada perpani pada dasarnya sama dengan ronde FITA, kecuali tentang peralatannya yang dipakai dan jarak tembak disesuaikan dengan kemampuan peralatan yang dibuat di dalam negeri. Mengenai peralatan Ronde Perpani ini ditetapkan bahwa hanya busur dan panah yang dibuat dan dengan bahan dalam negeri yang boleh dipakai. Dengan ketentuan tadi dua hal yang hendak dicapai, pertama untuk pemasalan belum diperlukan peralatan yang mahal, yangg harus diimport, tetapi cukup alat-alat yang bisa dibuat di Indonesia. Kedua, Ronde Perpani mempunyai peranan untuk mempersiapkan pemanah-pemanah kita untuk bisa mengambil bagian dalam pertandingan Internasional, tanpa menunggu tersedianya alat yang harus dibeli dengan harga mahal. Bagi mereka yang terbukti berhasil membuktikan kemampuannya melalui ronde Perpani, diberi kesempatan memakai peralatan Internasional. Sedangkan Ronde Tradisional dengan ciri-ciri dilakukan dengan gaya duduk dan instinctive, sulit mengambil sumber pemanah langsung dari ronde Tradisional, karena perbedaan-perbedaan yang sifatnya prinsipil tadi. Kemudian dengan adanya tiga ronde panahan tersebut, Perpani mengatur waktu untuk kejuaraan nasional sebagai berikut : Setiap tahun genap diselenggarakan Kejuaraan Nasional untuk Ronde Perpani dan Ronde Tradisional, sedang pada tahun ganjil diselenggarakan Kejuaraan Nasional untuk ronde FITA. Kebijaksanaan ini adalah dalam hubungannya dengan ketentuan dari FITA yang menyelenggarakan Kejuaraan Dunia pada setiap tahun ganjil. Sehingga Kejuaraan Nasional Ronde FITA tersebut dimaksudkan untuk persiapkan dan memilih para pemanah Indonesia yang akan diterjunkan ke kejuaraan Dunia. Sedangkan pada PON diperlombakan ketiga ronde sekaligus. Sejak Konggres Perpani tahun 1981 bersamaan dengan PON X, pola kebijaksanaan Perpani dirubah, yaitu bahwa Kejuaraan Nasional diselenggarakan setiap tahun (kecuali tahun diselenggarakannya PON tidak ada Kejuaraan Nasional) dan diperlombakan ketiga ronde Panahan sekaligus yaitu Ronde FITA, Ronde Perpani dan Ronde Tradisional .
Perlu dikemukakan disini bahwa sebelum tahun 1959 yaitu tahun diterimanya Perpani sebagai anggota FITA, pada PON - I tahun 1948 di Solo, PON II/1951 di Jakarta, PON - III/1953 di Medan, PON - IV/1957 di Makasar, panahan hanya memperlombakan Ronde Tradisional, yaitu ronde duduk, dengan hanya satu jarak 30 meter, dengan 48 tambahan @ 4 anak panah dan dengan sasaran bulatan dengan hanya dibagi tiga bagian saja.

Selanjutnya beberapa kejadian penting yang dapat dikemukakan mengenai dunia Panahan Indonesia, antara lain :
- Tahun 1959 :Kejuaraan Nasional I di Surabaya.
- Tahun 1961 :Kejuaraan Nasional II di Yogyakarta.
- Tahun 1962 :Kejuaraan Nasional III di Jakarta
- Asian Games IVdi Jakarta, dimana regu Panahan Indonesia menduduki tempat kedua di bawah Jepang.
- Tahun 1963 :Kejuaraan Nasinal IV di Jakarta.
- Genefo Idi Jakarta, dimana regu Indonesia (Putera) menduduki tempat keempat dan regu puterinya kedua.
- Tahun 1964 :Perlawatan regu Nasional ke RRC dan Phlipina. Selama di RRC pemanah-penahan pria kita dalam tiga pertandingan menduduki tempat teratas. Sedangkan puteri kita masih harus mengakui keunggulan pemanah-pemanah puteri RRC. Di Philipiina sebaliknya pemanah-pemanah tuan rumah, sedang pemanah puteri kita unggul dari pemanah-pemanah Philipina.
- Tahun 1965 :Kejuaraan Dunia di Vesteras, Swedia, dimana regu puteri Indonesia ketiga belas dan regu
puteri kesembilan terbaik di dunia.
- Tahun 1966 :Ganefo Asia I di Phnom Penh, Kamboja. Regu putera menempati urutan teratas, dan dua orang jago kita berhasil merebut medali emas dan perak untuk kejuaraan perorangan. Regu puteri kita menduduki tempat kedua di bawah RRC.
Untuk selanjutnya, perkembangan dan prestasi Panahan Indonesia tidak mengecewakan. Kejuaraan Nasional selalu diselenggarakan setiap tahun, yaitu tahun genap untuk Ronde Perpani dan Ronde Tradisional, sedang pada tahun ganjil untuk Ronde FITA (sejak tahun 1982 Kejuaraan Nasional diselenggarakan setiap tahun untuk ketiga ronde Panahan yaitu Ronde FITA, Ronde Perpani dan Ronde Tradisional sekaligus).
Demikian pula Perpani selalu berusaha dan berhasil mengikuti kejuaraan-kejuaraan Dunia, walaupun hasilnya masih di bawah pemanah-pemanah Asia masih menempati urutan teratas. Juga pada pertandingan-pertandingan Internasional lainnya seperti Asian Games, SEA Games, Asian Meeting Championships, Asia Oceania Target Archery Championships, Perpani selalu ikut mengambil bagian.
Demikialah perkembangan Panahan dan Perpani sampai saat ini, dimana cabang Panahan termasuk di dalam cabang yang diprioritaskan, bahkan termasuk cabang super-prioritas, di dalam persiapan menghadapi Asian Games XIII/1986 di Seoul - Korea Selatan. Hal ini tentunya karena prestasi cabang Panahan yang telah dicapai selama ini.
Perlu dicatat bahwa dalam forum Olympic Gamespun Panahan telah ikut berbicara, walaupun pihak Pemerintah selalu mengirimkan pemanah-pemanah kita dalam jumlah yang minim, yaitu satu putera dan satu puteri. Tetapi sejarah telah mencatat bahwa pada Olympic Games tahun 1976 di Montreal - Kanada pemanah puteri kita yaitu Leane Suniar berhasil menempati urutan kesembilan dan pada Olympic Games Tahun 1988 di Seoul - Korea Selatan, pemanah team puteri kita berhasil menempati urutan kedua dan pertama kalinya Indonesia mendapat perak di arena yang bertaraf Internasional. Suatu prestasi yang sangat membanggakan.