apa yang dimaksud dengan olahraga panahan??
olahraga
panahan adalah olahraga yang memerlukan keahlian dan juga skill
tersendiri. ya, olaraga ini termasuk sulit. kadang, untuk beberapa
pemula biasanya bisa terluka karena terkena panah yang sedang meluncur.
tetapi, jika sudah terbiasa olahraga ini dapat menjadi hobi yang bagus.
olahraga ini juga dapat membuat tubuh menjadi kuat. bagi orang-orang
yang ingin membuat otot pada tangannya, olahraga ini juga bisa digunakan
loh!
sebenarnya,
dahulu panahan ini tidak termasuk dalam olahraga. karena biasanya
olahraga ini dipergunakan untuk membela diri. dan juga untuk berperang
dimasa lalu. tapi, semenjak raja inggris yaitu raja Charles II
melombakan olahraga ini. semenjak itu pula panahan disebut menjadi
sebuah olahraga.
alat apa saja yang dibutuhkan??
-yang pertama tentu saja skill, tanpa skill orang tidak akan bisa memanah dengan benar. lagipula, busur juga lumayan berat loh.
-busur
-dan pastinya anak panah
busur yang digunakan bukanlah busur yang sembarangan ya. busur ini ada namanya juga, yaitu recurve bow.
apa itu recurve bow??
Recurve bow
adalah perkembangan termutakhir dari busur. Ini adalah jenis busur yang
paling umum digunakan di olahraga panahan saat ini. Desainnya terdiri
dari tiga bagian utama, riser - pegangan dan tempat aksesori lain
dipasang, dan sepasang limb yang merupakan sumber energi pegas busur.
Ciri khas dari busur ini adalah bagian ujungnya yang melengkung ke depan
(menjauhi pemanah) saat tidak ditarik atau dilepas talinya. Konstruksi
seperti ini memungkinkan draw weight yang lebih besar untuk panjang yang
sama. Sebagai kompensasinya, bahan penyusun limb memperoleh
tegangan/regangan lebih besar daripada busur biasa (longbow).
ini adalah bagian-bagian dari recurve bow...
- Riser - pegangan dan tempat ditempelkannya limb dan aksesori lain.
- Grip - bagian tempat memegang busur.
- Arrow rest - tempat meletakkan anak panah, bisa terbuat dari bulu atau plastik.
- Sight window - bantuan visual untuk membidik.
- Stabilizer - mengatur keseimbangan busur sesuai keinginan pemanah dan menahan getaran saat menembak.
- Sight - visir, untuk memperoleh bidikan yang lebih akurat.
- Limb - menyimpan energi pegas busur. Pada busur yang lebih modern, limb dapat
dengan mudah dibongkar pasang untuk ditukar, sementara busur produksi
perajin lokal memberikan performa yang kurang bagus jika sering
dibongkar pasang.
- String groove - lekukan tempat tali busur dikaitkan.
- Limb tip
- String - mentransfer energi dari tangan pemanah ke limb atau dari limb ke anak panah. Terbuat dari material sintetis seperti Kevlar.
- Center serving
- Nock point - tempat anak panah diletakkan, biasanya ditandai dengan lilitan benang di atas serving.
bagaimana cara memanah yang baik untuk pemula??
Pemanah pemula dalam latihan panahan harus mengetahui dan mencoba cara
memasang tali yang benar pada busur. Cara memasang tali yang benar penting sekali, yaitu agar
busur tidak patah dan nocking point berada pada posisi yang benar. Ada dua metode/cara
memasang tali pada busur:
1. Metode dorong tarik (push pull)
Metode ini dipakai pada busur yang lurus dan melengkung. Tali dipasang secara tepat
di dalam notch dari sisi busur sebelah bawah yang dibiarkan tenang. Tangan yang satu
menarik bagian tengah busur keluar, sedangkan tangan yang lain mendorong untuk memaksa
sisi busur kearah bawah. Ketika lengkungan diperoleh, jari harus menyumbat ujung tali dalam
penakik busur atas (notch). Tali yang sudah dipasang harus diperiksa yaitu dalam keadaan
lurus dengan busur (Barrett J. A, 1990: 46). Pemanah harus hati-hati dalam menggunakan
metoda ini, karena jika saat mendorong tidak hati-hati tangan bisa tergelincir, akibatnya busur
bisa terbang ke depan dan dapat memukul wajah. Seorang pemanah pemula, jika mempunyai
suatu tarikan busur yang berat dan atau sangat panjang, maka akan mengalami kesulitan untuk
menggunakan metoda ini (C.John, W, 1976: 47).
2. Metode tindak langkah (step-through)
Menempatkan sayap bawah di depan salah satu kaki dan tali busur berada diantara
langkah kaki lain. Pemanah menarik sayap bagian atas maju di atas paha dan masukkan tali
sampai takik pada ujung sayap. Kelemahan dari metoda ini adalah pemanah cenderung sering
menarik sayap bagian atas ke arah badan menjadi suatu garis lurus dengan tali busur dan busur
melengkung secara alami. Hasilnya tekanan yang tidak seimbang dapat dengan mudah
membengkokan sayap. Bagi para pemanah pemula sering menggunakan metode ini, karena
lebih mudah dalam memasukan tali busur dan tingkat keamanannya lebih baik daripada cara 1
(C.John, W, 1976: 49).
3. Posisi setengah tarikan (set up)
Posisi badan releks dengan setengah tarikan. Pada saat posisi ini, pemanah sangat
penting untuk merasakan agar posisi badan tetap tegak/center. Pemanah dalam menarik tali
menggunakan tiga jari, yaitu: jari telunjuk di atas ekor anak panah, jari tengah dan jari manis
berada di bawah ekor anak panah. Jarak antara jari telunjuk dan jari tengah kurang lebih satu
sentimeter. Pada waktu set up buat satu garis lurus antara bow arm dengan draw arm (Lee
dkk, 2000).
4. Menarik tali (drawing).
Tehnik dengan gerakan menarik tali sampai menyentuh bagian dagu, bibir, dan hidung
(Achmad Damiri, 1990: 21). Pemanah dalam menarik tali dengan irama yang sama, agar
posisi badan selalu seimbang. Kemudian pada waktu menarik jangan dibantu dengan badan,
tetapi gunakan otot-otot belakang bahu untuk menarik. Posisi yang benar adalah tali yang
mendekati dagu atau kepala, sebaliknya jangan kepala pemanah yang mendekati tali.
5. Penjangkaran (anchoring).
Teknik dengan gerakan menjangkarkan tangan penarik pada bagian dagu. Pada waktu
anchoring, pernafasan harus dikontrol dengan baik dan konsentrasi tetap. Setelah anchoring,
tekanan ke depan dari tarikan ke belakang terus kontinyu jangan sampai kendur/rileks (Lee
dkk, 2000). Posisi anchoring ada 2 yaitu: penjangkaran yang tinggi dan penjangkaran yang
rendah. Penjangkaran tinggi, dengan ujung jari telunjuk di sudut mulut sehingga ujung jari/
ujung tangan bertumpu sepanjang bagian bawah tulang pipi. Penempatan jari depan di sudut
mulut membantu mengatur anak panah di bawah pandangan mata. Penjangkaran rendah, jari
depan bertumpu langsung di bawah tulang rahang sehingga tali berada di garis tengah wajah.
Tali menyentuh ujung hidung dan di tengah-tengah dagu. Pemanah banyak mengerutkan bibir
dan mencium tali. Pemanah pemula biasanya menggunakan cara penjangkaran yang tinggi
(Barrett J. A, 1990: 52-53).
6. Menahan sikap memanah (holding).
Pemanah menahan sikap memanah beberapa saat sebelum anak panah dilepaskan
(Achmad Damiri, 1990: 23). Pada posisi holding, untuk tekanan ke depan dan tarikan
kebelakang tetap kontinyu. Pemanah dalam posisi holding, jangan dibantu badan untuk
menahan beban tarikan busur, tetapi yang dilakukan adalah otot-otot lengan penahan busur
dan lengan penarik tali harus berkontraksi, agar sikap memanah tidak berubah/tetap
merupakan satu garis lurus (Lee dkk, 2000)
7. Membidik (aiming).
Suatu gerakan mengarahkan visir pada titik sasaran dan pemanah dalam memegang
grip serileks mungkin. Bagi seorang pemanah pemula tehnik membidik sering berubah-ubah,
hal ini disebabkan karena waktu membidik kadang terlalu cepat dan kadang terlalu lama,
sehingga perlu latihan yang banyak agar bisa ajeg. Menurut hasil pengamatan di kejuaraan
Nasional, pemanah dalam membidik rata-rata memerlukan waktu 4 detik. Penyetingan alat
pembidik (visir) perlu disesuaikan tidak hanya pada jarak, tetapi pada saat cuaca dingin,
panas, dan angin, agar memperoleh target sesuai yang diinginkan (Achmad Damiri, 1990: 26).
8. Melepaskan anak panah (release).
Suatu gerakan melepaskan tali busur dengan cara tangan penarik tali bergerak ke
belakang menelusuri dagu dan leher pemanah (Achmad Damiri, 1990: 26). Pada waktu release
tekanan pada lengan kiri dan kanan jangan sampai bertambah pada salah satu bagian. Selain
itu, jari-jari penarik tali juga harus rileks, agar mendapatkan release yang halus. Pemanah
yang release nya halus, maka setiap arah panah dan speed (kecepatannya) sama, sehingga
terbangnya anak panah menjadi mulus
9. Gerak lanjut (follow through).
Pemanah selama beberapa detik melakukan gerak lanjut dengan tetap memberikan
tekanan yang sama seperti release. Pandangan mata pemanah juga harus tetap konsentrasi
kesasaran tidak beralih ke terbangnya anak panah. Busur diusahakan tetap diam sebelum anak
panah menancap di target. Tujuan dari gerak lanjut adalah untuk memudahkan pengontrolan
gerak memanah yang dilakukan
SEJARAH PERKEMBANGAN OLAHRAGA PANAHAN
Sampai
saat ini tak seorangpun mengetahui, sejak kapan orang mulai memanah.
Orang hanya menduga bahwa memanah telah dilakukan manusia sejak
beribu-ribu tahun yang lalu. Namun dari buku-buku melukiskan bahwa
orang purbakala telah melakukan panahan yaitu menggunakan busur dan
panah untuk berburu dan untuk mempertahankan hidup. Bahkan dari
beberapa buku melukiskan bahwa lebih dari 100.000 tahun yang lalu suku
Neanderathal telah menggunakan busur dan panah. Ahli-ahli purbakala
dalam penggalian di Mesir juga telah menemukan tubuh seorang prajurit
Mesir Kuno yang menemui ajalnya karena ditembus anak panah. Data
menunjukkan bahwa kejadian itu terjadi kira-kira 2100 tahun sebelum
masehi. Dari beberapa buku juga mengemukan bahwa sampai kira-kira tahun
1600 sesudah Masehi, busur dan panah merupakan senjata utama setiap
negara dan bangsa untuk berperang. Hingga kinipun masih
ada suku-suku bangsa yang mempergunakan busur dan
panah dalam penghidupan sehari-hari mereka, seperti : suku-suku bangsa
di hutan-hutan daerah hulu sungai Amazone, suku-suku Veda di pedalaman
Srilangka, suku-suku Negro di Afrika, suku-suku Irian di Irian Jaya,
suku Dayak dan suku Kubu Dari buku-buku dan keterangan-keterangan yang
diperoleh maka ter
dapat dua kelompok ahli yang mengemukakan dua teori yang berbeda.Yang pertama berpen
dapat bahwa
panah dan busur mulai dipakai dalam peradaban manusia sejak "era
mesolitik" atau kira-kira antara 5000 - 7000 tahun yang silam, sedang
pen
dapat kedua percaya bahwa panahan lebih awal dari masa itu, yaitu dalam "era paleolitik" antara 10.000 - 15.000 tahun yang lalu.
Terlepas dari mana yang benar, maka yang jelas bahwa sebelum panahan
menemui bentuknya sebagai olahraga seperti yang kita kenal saat ini,
ternyata telah melalui masa pertumbuhan yang panjang. Melalui peranan
yang berbeda-beda, mula-mula panahan dipergunakan orang sebagai alat
untuk mempertahankan
diri dari
serangan bahaya binatang liar, sebagai alat untuk mencari makan, atau
untuk berburu, untuk senjata perang dan baru kemudian berperan sebagai
olahraga baik sebagai rekreasi ataupun prestasi. Dari catatan sejarah
dapat dicatat
bahwa baru pada tahun 1676, atas prakarsa Raja Charles II dari
Inggris, panahan mulai dipandang sebagai suatu cabang olahraga. Dan
kemudian banyak negara-negara lain yang juga menganggap panahan sebagai
olahraga dan bukan lagi sebagai senjata untuk berperang. Pada tahun
1844 di Inggris diselenggarakan perlombaan panahan kejuaraan nasional
yang pertama dibawah nama GNAS (Grand National Archery Society), sedang
di Amerika Seirkat menyelenggarakan kejuaraan nasionalnya yang pertama
pada tahun 1879 di kota Chicago.
PERKEMBANGAN PANAHAN DI INDONESIA
Sama halnya dengan perkembangan/sejarah panahan di dunia, demikian pula tidak seorangpun yang
dapat memastikan
sejak kapan manusia di Indonesia menggunakan panahan dan busur dalam
kehidupannya. Tetapi apabila kita memperhatikan cerita-cerita wayang
purwa misalnya, jelas bahwa sejarah panah dan busur di Indonesiapun
telah cukup panjang, dan tokoh-tokoh pemanah seperti Arjuna, Sumantri,
Ekalaya, Dipati Karno, Srikandi demikian pula Dorna sebagai Coach
panahan terkenal dalam cerita Mahabharata. Kalau PON I kita pakai
sebagai batasan waktu era kebangunan olahraga Nasional, maka Panahan
telah ikut ambil bagian dalam era kebangunan Olahraga Nasional itu.
Dalam sejarah PON, Panahan merupakan cabang yang selalu diperlombakan,
walaupun secara resminya Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) baru
terbentuk pada tanggal 12 Juli 1953 di Yogyakarta atas prakarsa Sri Paku
Alam VIII. Dan Kejuaraan Nasional yang pertama sebagai perlombaan yang
terorganisir, baru diselenggarakan para tahun 1959 di Surabaya. Sri
Paku Alam VIII selanjutnya menjabat sebagai Ketua Umum Perpani hampir
duapuluh empat tahun dari tahun 1953 sampai tahun 1977. Kini beliau
menjabat sebagai Ketua Kehormatan Perpani.
Dengan terbentuknya Organisasi Induk Perpani, maka langkah pertama yang
dilakukan adalah menjadi anggota FITA (Federation Internationale de
Tir A L’arc). Organisasi Federasi Panahan Internasional yang ber
diri sejak
tahun 1931. Indonesia diterima sebagai anggota FITA pada tahun 1959
pada konggresnya di Oslo, Norwegia. Sejak saat itu Panahan di Indonesia
maju pesat, walaupun pada tahun-tahun pertama kegiatan Panahan hanya
ter
dapat di beberapa kota di
pulau Jawa saja. Kini boleh dikatakan bahwa hampir di setiap penjuru
tanah air, Panahan sudah mulai dikenal.
Dengan diterimanya sebagai anggota FITA pada tahun 1959, maka pada
waktu itu di Indonesia selain dikenal jenis Panahan tradisional dengan
ciri-ciri menembak dengan gaya duduk dan instinctive, maka dikenal pula
jenis ronde FITA yang merupakan jenis ronde Internasional, yang
menggunakan alat-alat bantuan luar negeri yang lebih modern dengan gaya
menembak ber
diri. Dan dengan
demikian terbuka pulalah kesempatan bagi pemanah Indonesia untuk
mengambil bagian dalam pertandingan-pertandingan Internasional.
Bersamaan dengan itu timbul masalah peralatan yang harus diatasi untuk
bisa mengambil bagian dalam pertandingan Internasional, pemanah kita
harus memiliki peralatan yang memadai, agar
dapat berkompetisi dengan lawan-lawannya secara berimbang. Kenyataannya alat-alat ini sangat mahal harganya dan sulit di
dapat. Hanya beberapa pemanah saja yang
dapat membayar
harga alat-alat tersebut. Keadaan ini merupakan faktor penghambat bagi
perkembangan olahraga ini. Untuk mengatasi masalah ini, pada tahun
1963 Perpani menciptakan Ronde baru dengan nama Ronde Perpani.
Pokok-pokok ketentuan pada perpani pada dasarnya sama dengan ronde
FITA, kecuali tentang peralatannya yang dipakai dan jarak tembak
disesuaikan dengan kemampuan peralatan yang dibuat di dalam negeri.
Mengenai peralatan Ronde Perpani ini ditetapkan bahwa hanya busur dan
panah yang dibuat dan dengan bahan dalam negeri yang boleh dipakai.
Dengan ketentuan tadi dua hal yang hendak dicapai, pertama untuk
pemasalan belum diperlukan peralatan yang mahal, yangg harus diimport,
tetapi cukup alat-alat yang bisa dibuat di Indonesia. Kedua, Ronde
Perpani mempunyai peranan untuk mempersiapkan pemanah-pemanah kita
untuk bisa mengambil bagian dalam pertandingan Internasional, tanpa
menunggu tersedianya alat yang harus dibeli dengan harga mahal. Bagi
mereka yang terbukti berhasil membuktikan kemampuannya melalui ronde
Perpani, diberi kesempatan memakai peralatan Internasional. Sedangkan
Ronde Tradisional dengan ciri-ciri dilakukan dengan gaya duduk dan
instinctive, sulit mengambil sumber pemanah langsung dari ronde
Tradisional, karena perbedaan-perbedaan yang sifatnya prinsipil tadi.
Kemudian dengan adanya tiga ronde panahan tersebut, Perpani mengatur
waktu untuk kejuaraan nasional sebagai berikut : Setiap tahun genap
diselenggarakan Kejuaraan Nasional untuk Ronde Perpani dan Ronde
Tradisional, sedang pada tahun ganjil diselenggarakan Kejuaraan
Nasional untuk ronde FITA. Kebijaksanaan ini adalah dalam hubungannya
dengan ketentuan dari FITA yang menyelenggarakan Kejuaraan Dunia pada
setiap tahun ganjil. Sehingga Kejuaraan Nasional Ronde FITA tersebut
dimaksudkan untuk persiapkan dan memilih para pemanah Indonesia yang
akan diterjunkan ke kejuaraan Dunia. Sedangkan pada PON diperlombakan
ketiga ronde sekaligus. Sejak Konggres Perpani tahun 1981 bersamaan
dengan PON X, pola kebijaksanaan Perpani dirubah, yaitu bahwa Kejuaraan
Nasional diselenggarakan setiap tahun (kecuali tahun
diselenggarakannya PON tidak ada Kejuaraan Nasional) dan diperlombakan
ketiga ronde Panahan sekaligus yaitu Ronde FITA, Ronde Perpani dan
Ronde Tradisional .
Perlu dikemukakan disini bahwa sebelum tahun 1959 yaitu tahun
diterimanya Perpani sebagai anggota FITA, pada PON - I tahun 1948 di
Solo, PON II/1951 di Jakarta, PON - III/1953 di Medan, PON - IV/1957 di
Makasar, panahan hanya memperlombakan Ronde Tradisional, yaitu ronde
duduk, dengan hanya satu jarak 30 meter, dengan 48 tambahan @ 4 anak
panah dan dengan sasaran bulatan dengan hanya dibagi tiga bagian saja.
Selanjutnya beberapa kejadian penting yang
dapat dikemukakan mengenai dunia Panahan Indonesia, antara lain :
| - Tahun 1959 : | Kejuaraan Nasional I di Surabaya. |
| - Tahun 1961 : | Kejuaraan Nasional II di Yogyakarta. |
| - Tahun 1962 : | Kejuaraan Nasional III di Jakarta |
| - Asian Games IV | di Jakarta, dimana regu Panahan Indonesia menduduki tempat kedua di bawah Jepang. |
| - Tahun 1963 : | Kejuaraan Nasinal IV di Jakarta. |
| - Genefo I | di Jakarta, dimana regu Indonesia (Putera) menduduki tempat keempat dan regu puterinya kedua. |
| - Tahun 1964 : | Perlawatan regu
Nasional ke RRC dan Phlipina. Selama di RRC pemanah-penahan pria kita
dalam tiga pertandingan menduduki tempat teratas. Sedangkan puteri kita
masih harus mengakui keunggulan pemanah-pemanah puteri RRC. Di
Philipiina sebaliknya pemanah-pemanah tuan rumah, sedang pemanah puteri
kita unggul dari pemanah-pemanah Philipina. |
| - Tahun 1965 : | Kejuaraan Dunia di Vesteras, Swedia, dimana regu puteri Indonesia ketiga belas dan regu
puteri kesembilan terbaik di dunia. |
| - Tahun 1966 : | Ganefo Asia I di
Phnom Penh, Kamboja. Regu putera menempati urutan teratas, dan dua
orang jago kita berhasil merebut medali emas dan perak untuk kejuaraan
perorangan. Regu puteri kita menduduki tempat kedua di bawah RRC.
|
Untuk selanjutnya, perkembangan dan prestasi Panahan
Indonesia tidak mengecewakan. Kejuaraan Nasional selalu diselenggarakan
setiap tahun, yaitu tahun genap untuk Ronde Perpani dan Ronde
Tradisional, sedang pada tahun ganjil untuk Ronde FITA (sejak tahun
1982 Kejuaraan Nasional diselenggarakan setiap tahun untuk ketiga ronde
Panahan yaitu Ronde FITA, Ronde Perpani dan Ronde Tradisional
sekaligus).
Demikian pula Perpani selalu berusaha dan berhasil mengikuti
kejuaraan-kejuaraan Dunia, walaupun hasilnya masih di bawah
pemanah-pemanah Asia masih menempati urutan teratas. Juga pada
pertandingan-pertandingan Internasional lainnya seperti Asian Games, SEA
Games, Asian Meeting Championships, Asia Oceania Target Archery
Championships, Perpani selalu ikut mengambil bagian.
Demikialah perkembangan Panahan dan Perpani sampai saat ini, dimana
cabang Panahan termasuk di dalam cabang yang diprioritaskan, bahkan
termasuk cabang super-prioritas, di dalam persiapan menghadapi Asian
Games XIII/1986 di Seoul - Korea Selatan. Hal ini tentunya karena
prestasi cabang Panahan yang telah dicapai selama ini.
Perlu dicatat bahwa dalam forum Olympic Gamespun Panahan telah ikut
berbicara, walaupun pihak Pemerintah selalu mengirimkan pemanah-pemanah
kita dalam jumlah yang minim, yaitu satu putera dan satu puteri.
Tetapi sejarah telah mencatat bahwa pada Olympic Games tahun 1976 di
Montreal - Kanada pemanah puteri kita yaitu Leane Suniar berhasil
menempati urutan kesembilan dan pada Olympic Games Tahun 1988 di Seoul -
Korea Selatan, pemanah team puteri kita berhasil menempati urutan
kedua dan pertama kalinya Indonesia men
dapat perak di arena yang bertaraf Internasional. Suatu prestasi yang sangat membanggakan.